Selasa, 12 Maret 2013

Makin Pikun


Umar, seorang remaja yang setiap hari bekerja sebagai buruh bangunan. Pagi-pagi sebelum berangkat bekerja, Umar berkata kepada Tomy yang juga teman dalam bekerja.
“ Tom, nanti pada saat pukul 12 siang nanti tolong ingatkan aku untuk harus member makan burung beo ku yang dirumah, supaya nanti aku nanti pulang dan member makan burungku, kalau tidak dikasih maka, burung itu pasti akan sakit dan mati.”

Lalu Tomi menjawab:
“ Tenang saja nanti aku pasti mengingatkanmu untuk member makan burung beo mu, supaya dia tidak sakit dan mati. “
Mendengar Tomy berkata seperti itu Umar merasa tenang dan bisa bekerja tanpa memikirkan burung beo nya.
Waktu tak terasa sudah semakin siang, jam makan siang sudah berlalu, tomy sepertinya lupa akan peringatan atau pesan yang disampaikan Umar, demikian juga Umar yang juga lupa kalau dia harus member makan burung beo nya.
Ketika selesai bekerja Umar baru tersadar akan burung beo nya, Umar merasa kesal karena Tomi yang dipercayai untuk mengingatkannya malah tidak melakukannya. Dengan rasa marah yang memuncak, Umar segera mencari dan menghampiri Tomy. Tetapi setelah bertemu dengan Tomy, Umar merasa bingung melihat tingkah Tomi yang seperti sedang mencari sesuatu yang penting.
Tak lama Tomi bertanya kepada Umar :
“ Umar kamu tahu dimana aku tadi meletakkan kunci motorku? Sejak dari tadi aku mencarinya, dan sampai saat ini aku belum menemukannya. ”Lalu Umar melihat tangan sebelah kanan Tomy yang sedang memegang kunci motornya. Umar baru sadar bahwa teman yang dipercaya untuk mengingatkannya ternyata sama pelupa dengannya dan dia menjadi tahu alasannya kenapa Tomi tidak memperingatkannya untuk memberi makan burung beo nya.


Miskin

Kita saat ini hidup dalam zaman serba instant, semua dituntut cepat dan sering mementingkan hasil daripada prosesnya. Rakyat masih bingung sudah atau belum merasakan kemerdekaan yang diwariskan dan kemerdekaan bukanlah sebuah hadiah.

Di tengah-tengah kebahagiaan, kedamaian, dan kemewahan di desa Nglipar Wonosari Kabupaten Gunung Kidul hidup seorang bapak dan 1 anak laki-laki. Bapak itu bernama Giman usianya 62 tahun, sedangkan anaknya bernama Jono dan berumur 26 tahun.

Keseharian Pak Giman hanya berkebun dan mencari kayu, sedangkan anaknya hanya bekerja menjaga ternak milik tetangga. Sudah pasti penghasilan mereka dibawah UMR ( Upah Minimum Regional ) dan hal itu membuat kehidupan Pak Giman serba irit bahkan bisa dikatakan serba kurang.

Seperti biasa, setiap pagi Pak Giman bangun pagi-pagi mempersiapkan kebutuhan, seperti memasak air dan menanak nasi. Jono yang baru bangun bergegas mandi dan pergi untuk menjaga ternak. Kambing diikat di pohon dan dibiarkan mencari makan.

Sambil menunggu ternak, Jono terlamun dan membayangkan jika dia menjadi orang kaya, Jono ingin sekali menjadi seorang yang kaya, mempunyai banyak mobil, rumah dan banyak uang. Tetapi semua itu hanyalah sebuah mimpi yang tak mungkin tercapai

Tak terasa hari semakin sore dan Jono bergegas pulang. Di rumah, Pak Giman sudah menunggu,

“ Sudah pulang Jon??, mandi dulu lalu makan, bapak sudah siapkan makanan di atas “. Kata Pak Giman sambil membersihkan sepeda tuanya. Tidak lama kemudian Jono melihat makanan yang ada di atas meja, seperti biasa hanya ada nasi, tempe, kerupuk, dan secangkir air putih.

“Betapa sederhananya makanan ini” kata Jono dalam hati.

Setelah selesai makan, Jono menghampiri Ayahnya yang sedang duduk di atas kursi di teras rumah sambil menghisap nikmatnya sebatang rokok.

“ Pak Jika Ibu masih hidup sampai sekarang, mungkin kehidupan kita tidak seberat ini, Bapak tak perlu susah-susah menyiapkan semuanya ” kata Jono kepada Ayahnya.

Lalu Pak Giman menjawab pertanyaannya

“ Jono, ada tidak adanya Ibumu tidak ada pengaruhnya dengan hidup kita saat ini, Bapak merasa senang kamu bisa berpikir sampai sejauh itu. Tetapi Bapak tidak merasa ini semua adalah salah Ibumu yang meninggalkan kita. “

Jono berkata lagi kepada Bapaknya

“ Apa Bapak tidak pernah membayangkan menjadi orang kaya “

 Dengan senyum Pak Giman Berkata

“ Ya terus terang saja, Bapak pernah berpikir dan membayangkan menjadi seorang yang kaya raya, semua kebutuhan tercukupi bahkan tidak disebut seperti orang kaya tetapi seperti seorang raja. Tetapi Bapak berpikir apa semua harta itu akan kita bawa saat kita meninggal, Bapak senang, nyaman, dan damai, harta tak perlu banyak, harta Bapak satu-satunya yang paling berharga adalah anak. Seorang anak akan mewarisi hidup dan berkewajiban mempunyai hidup yang lebih baik daripada orang tuanya. Bukankah semua itu indah jika hati kita yang kaya dengan amal baik. “

Orang Tua Dan Anak


Di zaman sekarang, bicara soal hubungan seorang Ayah dengan Anak sangat berbeda dengan zaman dahulu. Sekarang kita sering melihat anak terlalu dimanja dan terkesan orang tua hanya memikirkan kebutuhan materinya saja, tetapi tidak memikirkan tentang perasaan dan kasih sayang orang tua dengan anak.
Pada zaman dahulu orang tua begitu senang ketika menceritakan pengalamannya waktu muda dulu, dan mereka menutupi hal-hal yang buruk sehingga anak pun biasanya akan mengikuti jejak yang sama dengan orang tuanya.
Tetapi banyak Anak yang saat ini masih membutuhkan perlindungan dan kasih sayang seorang Ayah dan Ibu. Jangan heran jika anda melihat banyak anak-anak yang bergaul tidak pada tempat yang seharusnya, karena mungkin mereka bisa mendapatkan kasih sayang yang lebih di tempat itu.Jika anda bersedia dan rela membuang atau meluangkan waktu  1 hari atau sejam untuk bermain bersama, bercerita, meceritakan pengalaman anda, maka ia akan sangat senang hatinya. Anda tentu tidak ingin melihat anak yang mempunayi masa depan, mempunyai hubungan yang tidak harmonis.
 Itulah salah satu cara menjaga hubungan orang tua dan anak menjadi harmonis.