Selasa, 12 Maret 2013

Miskin

Kita saat ini hidup dalam zaman serba instant, semua dituntut cepat dan sering mementingkan hasil daripada prosesnya. Rakyat masih bingung sudah atau belum merasakan kemerdekaan yang diwariskan dan kemerdekaan bukanlah sebuah hadiah.

Di tengah-tengah kebahagiaan, kedamaian, dan kemewahan di desa Nglipar Wonosari Kabupaten Gunung Kidul hidup seorang bapak dan 1 anak laki-laki. Bapak itu bernama Giman usianya 62 tahun, sedangkan anaknya bernama Jono dan berumur 26 tahun.

Keseharian Pak Giman hanya berkebun dan mencari kayu, sedangkan anaknya hanya bekerja menjaga ternak milik tetangga. Sudah pasti penghasilan mereka dibawah UMR ( Upah Minimum Regional ) dan hal itu membuat kehidupan Pak Giman serba irit bahkan bisa dikatakan serba kurang.

Seperti biasa, setiap pagi Pak Giman bangun pagi-pagi mempersiapkan kebutuhan, seperti memasak air dan menanak nasi. Jono yang baru bangun bergegas mandi dan pergi untuk menjaga ternak. Kambing diikat di pohon dan dibiarkan mencari makan.

Sambil menunggu ternak, Jono terlamun dan membayangkan jika dia menjadi orang kaya, Jono ingin sekali menjadi seorang yang kaya, mempunyai banyak mobil, rumah dan banyak uang. Tetapi semua itu hanyalah sebuah mimpi yang tak mungkin tercapai

Tak terasa hari semakin sore dan Jono bergegas pulang. Di rumah, Pak Giman sudah menunggu,

“ Sudah pulang Jon??, mandi dulu lalu makan, bapak sudah siapkan makanan di atas “. Kata Pak Giman sambil membersihkan sepeda tuanya. Tidak lama kemudian Jono melihat makanan yang ada di atas meja, seperti biasa hanya ada nasi, tempe, kerupuk, dan secangkir air putih.

“Betapa sederhananya makanan ini” kata Jono dalam hati.

Setelah selesai makan, Jono menghampiri Ayahnya yang sedang duduk di atas kursi di teras rumah sambil menghisap nikmatnya sebatang rokok.

“ Pak Jika Ibu masih hidup sampai sekarang, mungkin kehidupan kita tidak seberat ini, Bapak tak perlu susah-susah menyiapkan semuanya ” kata Jono kepada Ayahnya.

Lalu Pak Giman menjawab pertanyaannya

“ Jono, ada tidak adanya Ibumu tidak ada pengaruhnya dengan hidup kita saat ini, Bapak merasa senang kamu bisa berpikir sampai sejauh itu. Tetapi Bapak tidak merasa ini semua adalah salah Ibumu yang meninggalkan kita. “

Jono berkata lagi kepada Bapaknya

“ Apa Bapak tidak pernah membayangkan menjadi orang kaya “

 Dengan senyum Pak Giman Berkata

“ Ya terus terang saja, Bapak pernah berpikir dan membayangkan menjadi seorang yang kaya raya, semua kebutuhan tercukupi bahkan tidak disebut seperti orang kaya tetapi seperti seorang raja. Tetapi Bapak berpikir apa semua harta itu akan kita bawa saat kita meninggal, Bapak senang, nyaman, dan damai, harta tak perlu banyak, harta Bapak satu-satunya yang paling berharga adalah anak. Seorang anak akan mewarisi hidup dan berkewajiban mempunyai hidup yang lebih baik daripada orang tuanya. Bukankah semua itu indah jika hati kita yang kaya dengan amal baik. “

Tidak ada komentar:

Posting Komentar