Miskin
Kita saat ini hidup
dalam zaman serba instant, semua dituntut cepat dan sering mementingkan hasil
daripada prosesnya. Rakyat masih bingung sudah atau belum merasakan kemerdekaan
yang diwariskan dan kemerdekaan bukanlah sebuah hadiah.
Di tengah-tengah
kebahagiaan, kedamaian, dan kemewahan di desa Nglipar Wonosari Kabupaten Gunung
Kidul hidup seorang bapak dan 1 anak laki-laki. Bapak itu bernama Giman usianya
62 tahun, sedangkan anaknya bernama Jono dan berumur 26 tahun.
Keseharian Pak Giman
hanya berkebun dan mencari kayu, sedangkan anaknya hanya bekerja menjaga ternak
milik tetangga. Sudah pasti penghasilan mereka dibawah UMR ( Upah Minimum
Regional ) dan hal itu membuat kehidupan Pak Giman serba irit bahkan bisa
dikatakan serba kurang.
Seperti biasa, setiap
pagi Pak Giman bangun pagi-pagi mempersiapkan kebutuhan, seperti memasak air
dan menanak nasi. Jono yang baru bangun bergegas mandi dan pergi untuk menjaga
ternak. Kambing diikat di pohon dan dibiarkan mencari makan.
Sambil menunggu ternak,
Jono terlamun dan membayangkan jika dia menjadi orang kaya, Jono ingin sekali
menjadi seorang yang kaya, mempunyai banyak mobil, rumah dan banyak uang. Tetapi
semua itu hanyalah sebuah mimpi yang tak mungkin tercapai
Tak terasa hari semakin
sore dan Jono bergegas pulang. Di rumah, Pak Giman sudah menunggu,
“ Sudah pulang Jon??,
mandi dulu lalu makan, bapak sudah siapkan makanan di atas “. Kata Pak Giman
sambil membersihkan sepeda tuanya. Tidak lama kemudian Jono melihat makanan
yang ada di atas meja, seperti biasa hanya ada nasi, tempe, kerupuk, dan
secangkir air putih.
“Betapa sederhananya
makanan ini” kata Jono dalam hati.
Setelah selesai makan,
Jono menghampiri Ayahnya yang sedang duduk di atas kursi di teras rumah sambil
menghisap nikmatnya sebatang rokok.
“ Pak Jika Ibu masih
hidup sampai sekarang, mungkin kehidupan kita tidak seberat ini, Bapak tak
perlu susah-susah menyiapkan semuanya ” kata Jono kepada Ayahnya.
Lalu Pak Giman menjawab
pertanyaannya
“ Jono, ada tidak
adanya Ibumu tidak ada pengaruhnya dengan hidup kita saat ini, Bapak merasa
senang kamu bisa berpikir sampai sejauh itu. Tetapi Bapak tidak merasa ini
semua adalah salah Ibumu yang meninggalkan kita. “
Jono berkata lagi
kepada Bapaknya
“ Apa Bapak tidak
pernah membayangkan menjadi orang kaya “
Dengan senyum Pak Giman Berkata
“ Ya terus terang saja,
Bapak pernah berpikir dan membayangkan menjadi seorang yang kaya raya, semua
kebutuhan tercukupi bahkan tidak disebut seperti orang kaya tetapi seperti
seorang raja. Tetapi Bapak berpikir apa
semua harta itu akan kita bawa saat kita meninggal, Bapak senang, nyaman, dan
damai, harta tak perlu banyak, harta Bapak satu-satunya yang
paling berharga adalah anak. Seorang anak akan mewarisi hidup dan berkewajiban
mempunyai hidup yang lebih baik daripada orang tuanya. Bukankah semua itu indah
jika hati kita yang kaya dengan amal baik. “
Tidak ada komentar:
Posting Komentar